Bubble Tea, Minuman Manis yang Membahayakan Kesehatan Tubuh

Berbagai jenis makanan dan minuman banyak berkembang hingga saat ini. Bubble tea adalah salah satu jenis minuman yang hype dan banyak digemari oleh kalangan masyarakat saat ini. Minuman manis yang terbuat dari campuran mutiara atau boba, susu, dan teh. Bubble tea disebut juga dengan teh susu boba, yaitu teh gelembung yang mengandung gula tambahan dan mutiara dari tapioka.

Kandungan gizi bubble tea.

Menurut United States Department of Agriculture (USDA), satu porsi bubble tea (sekitar 240 mL) mengandung 120 kalori, lemak 1,49 gram, dan karbohidrat 28,01 gram. Umumnya, kandungan protein dalam minuman bubble tea sangat rendah. Makronutrien ini diperlukan untuk mengatur pembentukan jaringan dan otot, aktivitas metabolisme, dan cadangan energi di dalam tubuh.

Selain itu, kandungan vitamin, mineral, dan serat dalam bubble tea juga rendah. Dikutip dari Mayo Clinic, serat makanan berperan penting untuk mencegah sembelit, menurunkan kadar kolesterol darah, serta membantu mencegah kanker dan penyakit jantung. The Linus Pauling Institute Micronutrient Information Center menjelaskan bahwa diet yang sehat haruslah mengandung tinggi serat untuk menyehatkan saluran pencernaan dan memberikan rasa kenyang. Jumlah asupan serat yang direkomendasikan untuk pria adalah 38 gram per hari dan 25 gram per hari untuk wanita.

Warning untuk penggemar bubble tea.

Bubble tea mengandung gula yang sangat tinggi. Inilah yang harus diperhatikan bagi penggemar minuman teh boba ini. Hasil penelitian Food Science and Nutrition menunjukkan bahwa kandungan gula boba milk tea 16 oz mencapai 38 gram. Ini sudah melebihi batas atas dari asupan gula tambahan yang direkomendasikan oleh Dietary Guidelines Advisory Committee (2015). Kandungan kalori dan gula yang tinggi dari minuman boba dapat menimbulkan masalah kesehatan, yaitu obesitas dan diabetes mellitus.

Memang, teh mengandung senyawa polifenol yang memiliki efek baik terhadap kondisi kardiovaskuler dan obesitas. Sayangnya, jumlah gula yang terlalu tinggi dalam teh boba menutupi manfaat tersebut. Sekalipun bubble tea terdapat rasa buah-buahan, tetapi kebanyakan hanyalah konsentrat pemanis buah buatan, bukan buah alami.

Lantas, apakah bubble tea tidak boleh dikonsumsi?

Bubble tea memang mengandung tinggi gula dibandingkan minuman ringan lainnya. Minuman manis dapat meningkatkan risiko kanker, obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Bahkan, WHO juga menyatakan bahwa membatasi asupan gula hingga 5 persen dari kebutuhan kalori harian akan memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh. The American Heart Association merekomendasikan asupan gula tidak lebih dari 25 gram per hari untuk wanita dan 36 gram per hari untuk pria.

Secangkir bubble tea ukuran kecil sudah menyumbang banyak asupan gula, bahkan melebihi batas aman harian. Selain itu, sebagian besar minuman ini mengandung bahan-bahan olahan, seperti sirup, asam maleat, dan minyak kelapa yang dihidrogenasi, yang merupakan sumber utama lemak trans. Dapat disimpulkan, bahwa bubble tea bukanlah minuman yang sehat.

Cara lain mengonsumsi bubble tea yang lebih sehat.

Jikapun Anda ingin mengonsumsi teh boba, Anda dapat membuat sendiri di rumah. Clayton State University merekomendasikan resep teh boba sederhana yang terdiri atas tiga bahan, yaitu susu, teh diseduh, dan mutiara tapioka. Selain itu, dengan membuat sendiri di rumah, Anda juga dapat menambahkan bahan-bahan lainnya yang lebih sehat, seperti buah-buahan segar.

Apabila Anda memiliki alergi terhadap susu, maka bisa gunakan almond atau santan sebagai pengganti susu sapi. Untuk pemanisnya, dapat menggunakan gula stevia. Selain itu, bisa ditambahkan kopi ke dalam bubble tea untuk meningkatkan energi.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*