Gejala-gejala Sindrom Asherman yang Perlu Dipahami

Terbentuknya jaringan parut pada rahim atau leher rahim disebut dengan sindrom asherman. Kondisi ini membuat isi dalam dinding rahim atau leher rahim saling menempel, hingga membuat ukuran rahim mengecil. Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, ringan dan parah serta masing-masing memiliki ciri dan tanda yang berbeda.

Kondisi yang ringan bisa terjadi di area rahim yang lebih kecil, sementara pada kasus yang parah terjadi pada seluruh dinding depan dan belakang rahim yang menyatu. Sehingga mengakibatkan penderita sindrom ini mengalami kesulitan untuk hamil, meskipun masih dapat hamil janin akan menghadapi risiko seperti keguguran atau kematian dalam kandungan.

Gejala Sindrom Asherman

Pada umumnya gejala yang dialami oleh penderita sindrom ini seperti tidak mengalami menstruasi atau amenorrhea. Meski begitu sebagian kasus menyebutkan jika penderita masih merasa nyeri saat menstruasi, walaupun tidak keluar darah. Dalam kondisi ini penderita memang mengalami menstruasi, namun darah tidak keluar dari rahim karena terhambat jaringan perut.

Selain gangguan pada menstruasi, gejala sindrom ini juga bisa berupa kram hingga rasa nyeri perut yang parah. Penderita juga mengalami kesulitan untuk hamil, dalam artian mempertahankan kehamilan karena keguguran berulang. Ibu yang mengalami sindrom ini harus diawasi secara ketat oleh dokter karena berisiko mengalami masalah lain.

Seperti plasenta previa hingga pendarahan berlebih, namun pada beberapa wanita sindrom ini tidak menimbulkan gejala apapun. Selain itu siklus menstruasi pada sebagian penderita juga masih bisa berjalan dengan normal. Berdasarkan tingkat klasifikasinya, sindrom ini dibagi menjadi tiga jenis yakni ringan, sedang dan berat.

Perlu diketahui bahwa kondisi ringan terjadi jika perlengketan rongga rahim kurang dari sepertiga dan siklus menstruasi penderita bisa normal tetapi bisa juga hipomenorea. Pada kondisi sedang, lengket terjadi sebanyak sepertiga hingga dua pertiga rongga rahim dan penderita juga mengalami hipomenorea.

Sementara itu tingkatan berat muncul saat perlengketan mencakup lebih dari dua pertiga rongga rahim dan penderita mengalami amenorea. Untuk penderita di tingkat sedang hingga berat diklaim akan sulit untuk hamil dan melahirkan, sehingga diperlukan operasi untuk memperbaiki rongga rahim dan menstruasi kembali normal.

Penyebab Sindrom

Kondisi ini termasuk kasus yang jarang terjadi, sebagian besar penderita mengalami setelah menjalani beberapa kali prosedur kuret. Prosedur yang biasanya dilakukan setelah keguguran atau retensi plasenta, 25 persen kemungkinan penderita mengalami ini karena melakukan prosedur kuret 2-4 minggu setelah operasi, selain itu berikut penyebab lainnya.

  • Jaringan parut yang muncul pasca bedah caesar, di mana hal ini dilakukan untuk menghentikan pendarahan yang ada.
  • Radioterapi.
  • Infeksi organ reproduksi.
  • Infeksi tuberkulosis atau skistosomiasis.
  • Endometriosis.
  • Pasca operasi pengangkatan miom atau polip.

Pengobatan Sindrom Asherman

Pengobatan dilakukan dengan tujuan memperbaiki ukuran dan bentuk rahim, dengan cara mengangkat atau menghilangkan perlengketan pada rahim. Pengobatan ini tidak dibutuhkan, apabila penderita tidak merasakan nyeri atau tidak berencana untuk hamil. Meski begitu, jika penderita merasa nyeri dan masih ingin hamil, maka disarankan melakukan operasi histeroskopi.

Operasi ini dilakukan dengan cara memasang alat operasi kecil pada ujung histeroskop untuk mengangkat jaringan parut dan membebaskan perlengketan dalam rahim. Hal ini bisa dilakukan dengan bius total atau lokal, setelah pengangkatan jaringan parut, rongga rahim kemudian harus dibiarkan terbuka selama masa penyembuhan agar perlengketan tidak muncul kembali.

Itulah penjelasan singkat mengenai gejala yang terjadi jika kamu terjangkit sindrom asherman. Dengan mengetahuinya, kamu dapat mengambil langkah yang tepat untuk menanganinya.

Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*