Inilah 4 Aspek Pokok Menuju Sekolah Adiwiyata!

Adiwiyata berasal dari dua buah kata, yaitu Adi dan Wiyata. Adi berarti besar, agung, ideal, sempurna, atau baik, sedangkan wiyata berarti tempat seseorang belajar ilmu pengetahuan, norma, dan etika. Sekolah Adiwiyata adalah salah satu program sekolah yang berbasis lingkungan. Anak-anak yang mengikuti sekolah Adiwiyata akan diajarkan peduli lingkungan yang sehat, bersih, dan asri. Para murid akan menyadari bahwa betapa pentingnya lingkungan yang hijau untuk kenyamanan, ketenangan, dan kesehatan seseorang.

Empat aspek pokok menuju sekolah Adiwiyata.

Dilansir dari Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan, ada 4 aspek penting yang harus dipenuhi untuk mencapai sekolah Adiwiyata, yaitu:

  1. Kebijakan berwawasan lingkungan.

Sekolah Adiwiyata harus membuat visi, misi, fungsi, tujuan, serta sasaran program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang tertulis di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Baik itu dijadikan mata pelajaran wajib, muatan lokal, ataupun program pengembangan diri, seperti Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Berdasarkan peraturan dari Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2013 bahwa untuk menjadi sekolah Adiwiyata, maka sekolah setidaknya mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari total anggaran setiap tahunnya. Dana ini nantinya akan dialokasikan untuk kegiatan kesiswaan dan pembelajaran berbasis lingkungan hidup.

  • Pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan.

Untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang berkualitas di sekolah Adiwiyata, maka dibutuhkan guru yang kompeten dan professional, meliputi:

  • Penguasaan kurikulum.
  • Penguasaan seluruh materi yang akan diajarkan.
  • Terampil menggunakan multi metode pembelajaran.
  • Disiplin.

Metode pembelajaran lingkungan hidup harus dilakukan dengan aktif, seperti demonstrasi, diskusi kelompok, simulasi, berbagi pendapat, atau langsung turun ke lapangan. Hasil karya dari warga sekolah bisa dipublikasi melalui mading sekolah, buletin sekolah, website sekolah, koran, serta siaran langsung di televisi atau radio.

  • Kegiatan lingkungan perlindungan berbasis partisipatif.

Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif ini memiliki standar untuk melakukan seluruh kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang terstruktur bagi seluruh warga sekolah Adiwiyata. Adapun kegiatan kreativitas dan inovasi sebagai upaya menjaga dan mengelola lingkungan hidup, seperti:

  • Daur ulang sampah.
  • Pemanfaatan dan pengolahan air.
  • Pembuatan taman sekolah.
  • Pembuatan tanaman obat keluarga (toga).
  • Tanam pohon.
  • Pembuatan kolam ikan.
  • Hutan sekolah.

Selain itu, ada juga kegiatan ekstrakurikuler untuk mengasah kreativitas warga sekolah dalam melestarikan lingkungan hidup, seperti Pramuka, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Palang Merah Remaja (PMR), Dokter Kecil, dan Pencinta Alam.

  • Pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan.

Aspek terakhir yang harus dipenuhi adalah sekolah Adiwiyata wajib mengelola sarana pendukung yang ramah anak dan lingkungan. Artinya, setiap program pembelajaran yang diajarkan kepada warga sekolah harus diiringi dengan fasilitas yang memadai. Misalnya, dengan menyediakan ruang terbuka hijau (RTH), drainase yang baik, serta tempat sampah terpisah.

Bangunan sekolah harus ramah terhadap lingkungan, dengan pengelolaan yang baik untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada warga sekolah. Sama halnya dengan kantin sekolah yang ramai dikunjungi oleh murid dan seluruh jajaran sekolah.

Kebersihan kantin harus selalu terjaga dan ramah lingkungan, seperti tidak menggunakan plastik, styrofoam, atau aluminium foil untuk membungkus makanan. Makanan yang dijual harus mengikuti standar kesehatan yang berlaku. Selain itu, tempat pencucian piring dan gelas yang kotor harus dengan air yang mengalir.

Catatan dari SehatQ

Inilah 4 aspek penting yang harus dipenuhi untuk menjadi sekolah Adiwiyata. Sekolah yang bisa menambahkan program ini ke dalam kurikulum pembelajarannya dapat memberikan dampak nyata terhadap pendidikan nasional terkait kelestarian lingkungan hidup. Selain itu, bisa membentuk dan memperkuat karakter cinta lingkungan sejak dini.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*