Mengajari Anak untuk Menghindari Bullying di Sekolah

Bullying atau perundungan pada anak kerap menjadi momok bagi pada orang tua. Bagaimana tidak, tindakan kekerasan ini seolah tidak terhindarkan meski anak berada di tempat yang seharusnya aman seperti di sekolah atau tempat bermain yang diawasi orang tua. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajari anak untuk menghindari bullying di sekolah. Untuk menghindari perilaku merusak ini, Michele Borba seorang psikolog pendidikan dari Amerika Serikat punya cara unik yakni, mengajari anak-anak untuk memecahkan masalah atau penyebab kegelisahan hatinya sendiri.

Bagaimana cara agar anak terhindar dari bullying di sekolah?

Problem solving merupakan metode yang berawal dari penelitian Borba pada pelaku bullying. Ternyata, sebagian besar dari mereka memiliki masalah pribadi dan mereka tidak tahu cara memecahkannya. Menyiksa orang lain menjadi salah satu cara pelaku untuk melampiaskan kekesalan yang dia alami.

Hasil penelitian yang dilakukan selama 30 tahun ini menghasilkan solusi bahwa perilaku penindasan dapat dikurangi dengan upaya sistematis, berkelanjutan, dan berbasis ilmiah. Dia menekan pentingnya anak-anak untuk belajar bekerja sama dalam menyelesaikan masalah mereka. “keterampilan memecahkan masalah adalah salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak dan remaja mengekang potensi pertengkaran, mengelola konflik, memunculkan empati sekaligus mengurangi peluang tindakan kekerasan”.

Pendapat dari Borba juga sejalan dengan hasil Analisa American Psychological Association. Riset yang dilakukan terhadap 153 kasus intimidasi menemukan fakta bahwa anak-anak, terutama laki-laki yang kesulitan dalam memecahkan masalah berisiko menjadi pelaku intimidasi, target, atau keduanya. Pelaku atau objek bullying juga kurang memiliki keterampilan sosial dan kerap berpikir negatif.

Pendekatan untuk jauhkan anak dari bullying di sekolah

Menurut riset A Children’s Hospital of Philadelphia menemukan banyak anak pelaku bullying menginginkan kekuasaan dan dominasi dan menggunakan reaksi agresif untuk mengendalikan orang lain. Mereka sering lepas kendali, tidak memiliki kenali impuls, dan merasa bahwa orang lain tidak ingin mendapatkannya.  Sebaliknya, siswa yang terampil dalam pemecahan masalah cenderung impulsif dan biasa menggunakan akal sehat ketimbang otot. Anak-anak itu juga cenderung lebih peduli, mampu berteman, dan cenderung lebih berprestasi secara akademis.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*