Mengenal Jenis dan Gejala Ablasi Retina

Ablasi retina termasuk keadaan darurat. Jika Anda merasa ada perubahan pada penglihatan, sebaiknya segera mencari bantuan medis.

Lepasnya retina dari bagian belakang mata, inilah kondisi yang disebut ablasi retina. Orang yang mengalaminya dapat kehilangan kemampuan melihat, baik sebagian hingga seluruhnya. Tergantung pada seberapa banyak bagian retina yang mengalami ablasi.

Ketika retina terlepas atau mengalami ablasi, sel-sel retina akan kekurangan oksigen. Itu sebabnya, di awal disebutkan bahwa ablasi retina merupakan kasus gawat darurat. Penanganan yang terlambat berisiko mengakibatkan kebutaan permanen.

Gejala dari ablasi retina

Tidak ada rasa sakit yang berkaitan dengan ablasi retina. Namun, ada gejala-gejala yang biasanya muncul sebelum retina terlepas atau mengalami ablasi.

Biasanya, penglihatan menjadi kabur atau kehilangan sebagian penglihatan. Penderita akan merasa seperti melihat tirai di area penglihatannya, dengan efek bayangan yang gelap.

Ketika melihat ke samping, penderita akan merasa seperti ada kilatan cahaya tiba-tiba. Penderita juga dapat tiba-tiba melihat banyak partikel hitam yang melayang di area penglihatannya.

Jenis-jenis ablasi retina

Ablasi retina yang terjadi dapat beragam, sebab setidaknya ada tiga jenis ablasi retina. Di bawah ini, penjelasannya untuk Anda.

Ablasi retina rhegmatogenous

Jenis ablasi rhegmatogenous ini ditandai dengan adanya robekan atau lubang pada retina. Kondisi ini membuat cairan dari dalam mata dapat merembes dan masuk ke belakang retina.

Cairan tersebut akan memisahkan retina dari jaringan epitel pigmen, suatu membran yang memberi nutrisi dan oksigen bagi retina. Jika sudah demikian, retina akan terlepas. Ini merupakan penyebab ablasi retina yang paling umum terjadi.

Ablasi retina tractional

Kondisi ablasi retina tractional terjadi karena jaringan parut pada retina berkontraksi dan mengakibatkan menjauh dari bagian belakang mata. Jenis ini tidak terlalu umum, biasanya banyak menimpa mereka yang memiliki penyakit diabetes mellitus.

Mengapa demikian? Sebab diabetes mellitus dapat merusak sistem vaskular retina. Kerusakan pada sistem vaskular ini nantinya dapat menimbulkan akumulasi jaringan parut. Saat jaringan parut berkontraksi, seperti disebutkan sebelumnya, terjadilah ablasi retina.

Ablasi eksudatif

Dalam kasus ablasi eksudatif, tidak ada robekan atau kerusakan pada retina. Ablasi terjadi karena beberapa faktor.

Pertama, akibat adanya inflamasi yang memicu penumpukan cairan di belakang retina. Dapat pula dipicu oleh kanker di belakang retina. Atau disebabkan oleh penyakit Coat. Penyakit ini menyebabkan perkembangan yang tidak normal pada pembuluh darah, akibatnya protein yang menumpuk di belakang retina bocor.

Mencegah terjadinya ablasi retina

Tidak ada satu pun orang yang bersedia kehilangan kemampuan melihat. Semua orang pasti berharap fungsi penglihatannya tetap normal. Kaitannya dengan ablasi retina, bagaimana agar kita terhindar dari gangguan medis yang satu ini?

Salah satu kuncinya, melakukan pemeriksaan mata secara rutin. Dengan pemeriksaan rutin, setiap kelainan yang terjadi pada mata dapat segera terdeteksi. Bila ablasi retina dapat dideteksi sejak dini, penanganannya akan lebih optimal.

Tidak hanya masalah ablasi retina, pemeriksaan mata secara rutin juga akan mendeteksi gangguan mata secara umum.

Disarankan untuk memeriksakan mata minimal satu kali dalam setahun. Apabila Anda memiliki penyakit diabetes, sebaiknya pemeriksaan mata dilakukan lebih sering. Telah disebutkan sebelumnya, diabetes dapat memicu terjadinya ablasi retina.

Selain masalah diabetes, tekanan darah juga perlu dikelola dengan baik. Gangguan tekanan darah tinggi juga berisiko memicu ablasi retina. Sebaliknya, tekanan darah yang terjaga dan kondisi diabetes yang terkontrol, akan membuat pembuluh darah di sekitar retina tetap sehat.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*