Tarsal Tunnel Syndrome, Penyakit yang Menyerang Pergelangan Kaki

Tarsal Tunnel Syndrome

Sindrom kanal tarsal atau Tarsal Tunnel Syndrome (TTS) adalah kelainan saraf yang terjadi akibat kompresi (tekanan) pada saraf tibialis posterior di kaki. Kanal tarsal merupakan bagian berupa “terowongan” sempit yang terletak di bagian dalam pergelangan kaki. Kanal tarsal ditutupi dengan ligamen tebal (jaringan pengikat tulang) yang berfungsi untuk melindungi dan mempertahankan struktur di dalamnya, meliputi pembuluh darah, tendon (urat), dan saraf tibialis posterior.

Tarsal Tunnel Syndrome dapat mengakibatkan terganggunya fungsi kanal tarsal yang ditandai dengan gejala seperti kaki mati rasa hingga sensasi terbakar seperti tersetrum. Umumnya, sindrom kanal tarsal dapat terjadi akibat tekanan berulang pada saraf di pergelangan kaki yang dinamakan tibialis posterior. Selain itu, TTS juga dapat berkembang sebagai komplikasi penyakit lain, misalnya diabetes.

Penyebab Tarsal Tunnel Syndrome di antaranya akibat trauma, kelainan anatomi, penyakit sistemik, serta luka setelah operasi. Gejala yang timbul berupa nyeri, gangguan sensorik, serta kelemahan otot. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya pes planus dan talipes equinovarus, serta kelainan pada gaya berjalan. Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) pada terowongan tarsal dapat menilai adanya kelainan jaringan lunak. Adapun pemeriksaan konduksi saraf dan elektromiografi (EMG) merupakan standar baku untuk menegakkan diagnosis serta menilai derajat keparahan penyakit.

Adapun beberapa faktor yang meningkatkan risiko dari Tarsal Tunnel Syndrome (TTS)

  1. Telapak kaki yang datar

Tekanan pada struktur kaki dan perubahan arah saraf dan tendon dapat menyebabkan tekanan pada saraf tibialis. Struktur kaki yang datar meningkatkan peluang terjadinya TTS.

  1. Kista atau tumor

Kista atau tumor yang tumbuh di daerah pergelangan kaki mampu menghasilkan tekanan pada saraf.

  1. Varises

Varises pada membran yang mengelilingi saraf tibialis dapat menyebabkan kompresi pada saraf tersebut.

  1. Diabetes

Pada penderita diabetes, pembuluh darah yang terletak di terowongan tarsal bisa membesar karena kadar glukosa darah yang lebih tinggi, dan sekaligus menyebabkan lebih banyak tekanan pada saraf.

  1. Rheumatoid arthritis (radang sendi)

Peradangan sendi akibat artritis akan mengurangi ruang yang tersedia untuk saraf sehingga meningkatkan tekanan. Selain itu, individu yang kelebihan berat badan atau obesitas rentan terhadap kondisi ini karena tekanan yang berlebihan pada saraf tibialis posterior.

  1. Cedera atau benturan

Keseleo atau patah tulang di pergelangan kaki dapat menimbulkan peradangan dan pembengkakan. 

Gejala Tarsal Tunnel Syndrome dapat dikurangi dengan obat anti radang, namun tidak dapat mengurangi tekanan pada saraf. Guna meredakan tekanan pada saraf, Anda perlu mengenakan alas sepatu medis. Alas sepatu medis membantu mendistribusikan ulang berat badan dan menghilangkan tekanan pada saraf pergelangan kaki. Sebagai tambahan, olahraga atau perubahan ukuran sepatu juga penting untuk mengurangi tekanan pada pergelangan kaki. Jika perawatan seperti ini tidak efektif atau Tarsal Tunnel Syndrome disebabkan oleh penyakit lainnya, dokter akan menyarankan operasi untuk mengurangi tekanan pada saraf.

Selain pengobatan dengan obat dan penggunaan sepatu medis, Tarsal Tunnel Syndrome juga bisa diobati melalui operasi. Akan tetapi, perawatan dengan operasi mempunyai sejumlah risiko dan rasa sakit tidak langsung hilang setelah operasi. Jaringan parut juga dapat terbentuk di sekitar saraf setelah operasi atau kerusakan saraf tidak bisa disembuhkan. Pemulihan pasca operasi mungkin berlangsung selama beberapa bulan. Oleh karena itu, pengobatan dari Tarsal Tunnel Syndrome perlu mendapat pemantauan dan pengawasan yang khusus agar pasien yang menderita penyakit ini, nantinya bisa dapat berjalan dengan normal kembali.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*